Menjelajahi Nusantara Dari Sisi Yang Berbeda

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

“Tidak ada tempat yang lebih indah, yang ada hanya tempat yang berbeda”, begitu seorang kawan traveler memaknai cerita perjalanannya.

“Iya. Tapi kalau berbeda, apa yang membedakan satu dengan lainnya?”, tanyaku.

“Berbeda kan gak harus dengan perbandingan. Itu relatif. Kalau kamu mau membandingkan, gak akan ada habisnya, Bro.” tegasnya sebelum membetulkan ransel.

“Iya juga sih. Terus piye?”

“Ya gak piye-piye. Banyak jalan-jalan harus bikin kita lebih bijak dalam berpikir, gak cuma nambah log check-in di media sosial kan?”

JLEB

“Iya. Mikir. Mikir jangka panjang gitu contohnya?”

“Salah satunya. Dan mikir juga di balik tempat yang dikunjungi, kita dapat pengalaman apa aja biar hidup kita lebih baik”, katanya mengakhiri obrolan.

Sunset yang sempurna dari Bintuni, Papua Barat

Saat itu kami berada di Bintuni, Papua Barat. Kami duduk berdua memandangi mentari yang mulai meredup memunggungi bahtera. Semburat jingganya berpendar di langit. Seperti koin yang tercelup di lautan, cahaya kuning keemasan perlahan mulai menghilang di ufuk barat. Bintuni adalah trip terakhir saya selama sembilan bulan penuh menjelajahi Nusantara.

Jarak yang jauh dari Jawa di mana saya tinggal, tak menyurutkan langkah untuk menelusuri Tanah Papua. Sebelum sampai di Bintuni, saya harus transit di Sorong. Untungnya saat ini pilihan penerbangan dari Jakarta maupun kota-kota lainnya menuju Sorong relatif banyak. Kita pun bisa menyesuaikan di bulan termurah untuk menghemat budget saat terbang menuju Sorong.

Di kota pelabuhan yang sudah masyhur sejak zaman kolonial ini, saya temukan wajah kota yang luar biasa. Tampak perahu-perahu menancapkan jangkarnya di sisi-sisi laut seakan mengepung Sorong. Di tepinya, pemukiman yang menjorok ke laut menambah syahdu penampilan kota minyak ini.

Syahdunya Kota Sorong tampak dari atas

Papua memang penuh misteri. Hutannya yang lebat dan lautnya yang biru, seakan selalu mengundang setiap orang untuk menjelajahi Papua. Pengalaman saat menjelajahi Papua juga selalu membuat terkesan. Suatu ketika setelah singgah di Jayapura, pesawat yang saya tumpangi sempat mengitari langit Nabire tiga kali akibat cuaca ekstrem. Namun ketika pesawat landing dengan sempurna, perjuangan saya dibalas dengan berbagai keindahan Nabire.

Nabire memiliki pulau-pulau kecil yang menyeruak di tengah lautnya. Saya beruntung bisa mengunjungi beberapa di antaranya. Pulau Moor, Pulau Ahe, dan Pulau Roine menjadi sederet pulau yang saya tatap secara langsung ketika berada di Nabire. Ketiga pulau ini memiliki karakteristik yang berbeda. Pulau Moor adalah pulau yang dihuni penduduk lokal Nabire. Sementara di Pulau Ahe, hanya terdapat resort yang sering dipakai untuk menginap para penyelam dari berbagai dunia yang ingin mengeksplorasi Teluk Cenderawasih. Nah, Pulau Roine adalah pulau yang sama sekali tidak dihuni manusia. Hanya ada pasir putih dengan sedikit tanaman di atas pulau mungil ini.

Pulau Roine sering dijadikan lokasi piknik warga Nabire ketika liburan bersama keluarga. Termasuk ketika saya berkunjung, saya diantar oleh keluarga yang juga biasa piknik di pulau ini. Pulau Roine adalah spot yang sederhana, namun benar-benar memanjakan mata kita saat menjelajahi gugusan pulau di Nabire, Papua.

Pulau Roine Nabire yang sederhana namun memanjakan mata

Di Bumi Cenderawasih ini, saya juga pernah hidup ala native people bersama warga Papua. Dan di sinilah saya menjelajahi berbagai pesona yang tak akan mungkin saya lupakan. Bersama keramahan masyarakat Fakfak, saya diajarkan untuk tetap  berdampingan baik dengan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Masyarakat Fakfak memiliki pedoman “satu tungku tiga batu”. Prinsip ini dimaknai bahwa dalam satu marga, bisa saja ada tiga agama yang berbeda di dalamnya, namun tetap sama-sama diakui sebagai bagian keluarga yang harus dijaga. Saat ada perayaan hari besar agama, keluarga yang berbeda agama akan membantu keluarga yang sedang bersuka cita, demikian sebaliknya.

Saya juga belajar tentang kesederhanaan hidup ala orang Papua. Salah satunya perihal pemanfaatan kekayaan alam yang dilakukan oleh warga. Mereka mengambil dari alam seperlunya, sesuai kebutuhan keluarga, dan tidak semena-mena.

Kitorang memancing itu kalau musim bagus satu ekor kerapu bisa dapat dua ratus ribu. Kalau satu hari dapat lima ekor, berarti dapat satu juta satu hari, anak”, seru Pace Sudak saat saya diajak memancing di Kepulauan Karas, Fakfak.

“Oh ya? Kalau satu bulan berarti bisa dapat 30 juta to Pace?” tanyaku mantap.

Trada. Kitorang pancing itu kalau butuh saja. Untuk lauk makan, atau kalau ada kebutuhan lain. Kalau tong butuh, tong pi pancing lai”, begitu kata Pace Sudak.

Pace Sudak saat memancing di Pesisir Fakfak

Kabupaten yang terkenal sebagai penghasil pala ini memiliki topografi alam yang serupa dengan Kaimana hingga Raja Ampat. Lime stone beralaskan laut jernih dan berhadapan langsung dengan pantai berpasir putih di tepinya adalah sajian utama ketika kita menjelajahi pesisir Kabupaten Fakfak. Di dalam lautnya, berbagai terumbu karang dan beragam spesies tinggal dengan nyaman.

Untuk melindungi potensi alam ini, masyarakat Fakfak menerapkan sistem sasi. Sasi adalah sistem adat masyarakat Papua untuk membatasi kegiatan di lokasi yang ditentukan. Para tokoh adat dan agama biasanya berkumpul, menjalankan beberapa ritual, lalu sasi yang ditandai dengan kayu/daun atau simbol lainnya diletakkan di lokasi yang akan dibatasi ekploitasinya. Penerapan sistem sasi ini konon telah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang warga Papua ada. Ketika sebuah lokasi telah ditandai dengan sasi, maka tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk beraktivitas di atas area perkebunan warga, di atas laut, atau di sekitar pantai.

Memang benar cerita teman saya di awal tulisan ini, tidak ada yang lebih indah ketika melihat sebuah tempat, hanya berbeda. Perasaan itu saya rasakan saat mengunjungi pantai-pantai di Pulau Lombok, beberapa bulan sebelum saya ke Sorong dan Bintuni.

Perjalanan ke Lombok diawali dengan sedikit drama karena waktu itu teman saya harus memilih antara trip ke Lombok atau Kalimantan. Berbagai situs online travel agent (OTA) pun kami cek. Akhirnya pilihan terbaik kami temukan melalui skyscanner. Di website dan apps skyscanner, secara lengkap kami bisa menentukan dari beragam pilihan penerbangan dan akomodasi yang dibutuhkan selama berada di Lombok.

Teman saya yang begitu loyal dengan Garuda Indonesia tak mau beralih ke penerbangan lainnya. “GFF (Garuda Frequent Flyer) gue bentar lagi gold, Bro! Sayang kalau jauh-jauh ke Lombok gak kehitung”, serunya.

Berbekal Tiket Pesawat Garuda Indonesia di tangan, akhirnya teman saya memutuskan perjalanan bersama saya ke Lombok dimulai dari Jakarta via Bali. Setelah transit beberapa saat di Bandara Ngurah Rai, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat jenis Bombardier CRJ-1000. Pesawat ini adalah pengganti jenis ATR. Karena usianya yang relatif baru, interior pesawat pun begitu nyaman dan masih sangat mulus.

Trio Gili Lombok dari jendela pesawat

“Beruntung!”, demikian saya bergumam saat terbang. Pesawat yang lebih kecil membuat rute jelajah tidak terlalu tinggi. Alhasil, dari jendela pesawat saya bisa menyaksikan trio gili menawan di Lombok dari udara: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Sesaat sebelum pesawat mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL), saya juga bisa menatap keanggunan Gunung Rinjani yang menaungi Pulau Lombok. Combo keberuntungan saya!

Selain trio gili yang berada di Kabupaten Lombok Utara, saya juga menjelajahi pantai-pantai eksotis di sisi selatan Lombok. Deretan pantai yang mengagumkan di Kabupaten Lombok Tengah di antaranya Pantai Mawun, Pantai Mandalika, Pantai Tanjung Aan, Pantai Seger, dan Pantai Kuta. Pantai-pantai ini berjajar rapi seakan menjadi halaman Pulau Lombok dari selatan. Sejumlah pantai ini juga relatif lebih sepi dan tenang dibandingkan dengan pantai-pantai di Lombok Utara.

Tak hanya itu, gara-gara penasaran, dengan nekad saya menjelajahi Lombok Timur. Teman-teman tak perlu bingung ketika mencari penyewaan mobil selama berada di Lombok. Di menu “sewa mobil” yang disediakan skyscanner, berbagai pilihan kendaraan bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Tinggal klik untuk order, maka kebutuhan transportasi darat selama kita traveling dengan segera akan terpenuhi.

Menu di skyscanner ketika kita akan memesan mobil dari Bandara Internasional Lombok

Untuk sampai di Kabupaten Lombok Timur, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Mataram atau 1 jam dari BIL di Praya. Kabupaten dengan ibukota Selong ini tak kalah eksotis potensi alamnya. Pantai Pink dan Tanjung Ringgit menjadi tujuan pertama saat saya menjelajah ke Lombok Timur. Keduanya memang berdekatan. Bedanya, Tanjung Ringgit adalah bukit curam yang langsung menghadap ke laut. Sedangkan Pantai Pink merupakan pantai dengan debur ombak yang relatif tenang dan ketika panas matahari menyengat, pasir pantai akan berwarna merah muda/pink karena pengaruh alga. Istimewa!

Lombok Timur juga memiliki trio gili yang mempesona: Gili Lampu, Gili Bidara, dan Gili Kondo. Trio gili ini sering menjadi tempat singgah perahu-perahu mewah yang membawa wisatawan dari Bali/Gili Trawangan saat live on board menuju Pulau Komodo.

Di sinilah saya menikmati suasana private island dengan harga backpacker. Saat menyeberang, biayanya hanya 200 ribu untuk sewa perahu. Perlu dicatat bahwa biaya itu untuk hoping island di ketiga gili tadi. Dan kita bisa request mau ditunggu atau dijemput kembali setelah menikmati cantiknya gili-gili ini. Ongkos itu menjadi jauh lebih murah kalau ada teman saat menyeberang. Karena total ongkos akan dibagi sejumlah penumpang sesuai kapasitas maksimal perahu sebanyak 10 orang.

Serasa memiliki pulau pribadi di Gili Kondo, Lombok Timur

Apakah Lombok lebih indah dari Bali? Tidak, keduanya hanya berbeda. Bali memang sudah familiar sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan dunia. Beragam pilihan berlibur memang disediakan di Bali, hingga membuat saya sedikit mumet memandang layar telepon seluler saat mengecek berbagai fasilitas akomodasi selama di Bali.

Untungnya, pilihan-pilihan yang superbanyak yang ada di Bali teratasi dengan fitur yang ada di apps Skyscanner. Karena saya mengajak keluarga, hotel atau penginapan yang saya tinggali harus family friendly. Kenyamanan menjadi yang utama mengingat puteri kecil kami butuh ruang gerak yang cukup untuk bermain.

Tempat-tempat bernuansa tropical vibes di dekat pantai bisa dijumpai di Bali seperti di kawasan Kuta, Nusa Dua hingga Nusa Penida. Namun saat menjelajahi Bali saya lebih memilih area-area penuh ketenangan seperti di Ubud dan Bedugul.

Ubud menjadi destinasi favorit wisatawan sejak era Presiden Soekarno. Ketenangan dan keeksotisan juga telah membawa pelukis keturunan Spanyol dan Amerika bernama Antonio Blanco untuk menetap hingga akhir hayatnya di Ubud. Selain bentangan sawah yang menghijau, seni dan budaya khas Bali bisa kita nikmati di berbagai titik di Ubud. Maka tak mengejutkan jika banyak public figure dunia berlomba-lomba mengunjungi Ubud. Terakhir, Mantan Presiden Amerika Barack Obama yang memboyong keluarganya ke Ubud pada pertengahan tahun lalu.

Ketika saya menjelajah Ubud, yang saya lakukan sederhana: saya mengunjungi pasarnya. Pasar Ubud terasa berbeda dengan pasar di daerah lain karena beragam sesajian untuk sembahyang dijual di sini, berdampingan dengan souvenir untuk oleh-oleh yang ditawarkan untuk wisatawan, pun dengan berbagai kebutuhan pokok yang disediakan untuk masyarakat lokal. Keramahan Bali sangat terasa di pasar ini. Selain itu, saya juga begitu menikmati suasana rileks selama di Ubud. Bahkan sekadar duduk menatap kolam renang di penginapan yang saya tinggali di Ubud pun membuat nyaman.

Sementara nuansa kesakralan Bali sangat saya rasakan saat mengunjungi Bedugul. Di Pura Ulun Danu Beratan, kegiatan peribadatan masyarakat Hindu berjalan khusyuk meskipun wisatawan hilir mudik menikmati pemandangan. Ketika ada kegiatan sembahyang, di Pura yang juga tercetak di pecahan uang 50 ribuan ini masyarakat Hindu akan membawa aneka rupa sesajian. Nuansa budaya Bali yang khas akan kuat terasa saat masyarakat membawa sesajian berjalan dengan diiringi suara kendang dan ceng ceng setelah selesai beribadah.

Budaya memang lekat dengan wisata. Maka ketika saya menjelajahi Nusantara, hal yang tak bisa saya lewatkan adalah belajar tentang kearifan budaya-budaya di setiap titik yang saya jelajahi. Termasuk saat saya menelusuri sejarah para leluhur di Jogja, sebuah daerah yang menjadikan budaya sebagai penopang geliat wisatanya.

Ratusan destinasi wisata yang yang terus bertambah di Jogja membuat daya tarik daerah istimewa ini terus meningkat tiap tahunnya. Kita harus benar-benar cerdas selama menjelajahi Jogja karena belum tentu semua lokasi bisa kita kunjungi dalam waktu yang terbatas. ‘Ingin ke sana, tapi penasaran dengan yang di situ’, demikian kira-kira analoginya kalau berkunjung ke Jogja. Saran saya, kembali lagi, rajin-rajin lah cek apps atau website skyscanner. Beragam pilihan akan muncul dengan keyword Yogyakarta atau Jogja.

Tampilan ketika kita memilih Yogyakarta sebagai destinasi di skyscanner

Saat menelusuri Jogja, salah satu yang membuat saya terpukau adalah kekayaan budaya adiluhung yang menyimpan berbagai cerita sejak zaman Mataram kuno melalui berbagai candi di sekitar area Prambanan. Kumpulan candi Hindu-Budha saya telusuri, mulai dari Candi Sewu, Candi Bubrah, Situs Ratu Boko, Candi Sambisari, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sari, Candi Kalasan, hingga Candi Banyunibo.

Tak jauh dari Prambanan, pengelolaan wisata dengan nuansa keramahan Jogja juga sangat terasa ketika saya menjamah Tebing Breksi. Dengan tiket masuk seikhlasnya dan biaya parkir hanya Rp 2.000,00 saya menjumpai batuan yang dulunya merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba jutaan tahun lalu. Dengan tujuan untuk menjaga kelestarian kekayaan geologi, lokasi yang dulunya menjadi area penambangan warga ini diubah menjadi objek wisata. Pengelolaan Tebing Breksi sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat setempat sebagai ganti mata pencaharian dari aktivitas pertambangan. Kini di Kawasan Breksi kekayaan alam tetap lestari, dan wargapun bisa tergerak secara ekonomi.

Tebing Breksi, kawasan penambangan yang kini menjadi desinasi wisata

Proses belajar tentang kesederhanaan dan kuatnya nilai budaya Jogja juga saya lakukan saat mengunjungi Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul. Dengan jarak sekitar 15 km atau 30 menit berkendara dari pusat Kota Yogyakarta, saya menemukan kebijaksanaan dari seorang penjaga makam. Namanya Mbah Jadir, seorang abdi dalem yang menjaga makam Raja Mataram Islam yang berasal dari Kasunanan Surakarta. Perlu diketahui bahwa di Makam Raja-raja Imogiri disemayamkan raja-raja dari Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Menjaga makam di sini memiliki pengalaman tersendiri. Mbah Jadir berkisah bahwa hampir setiap tokoh yang mencalonkan diri menjadi pemimpin negara ini, menyempatkan diri untuk sowan di Makam Imogiri. Dan ketika memasuki area makam, Mbah Jadir dan para penjaga makam lah yang memegang kendali. Siapapun, tak memandang pangkat dan posisi, harus taat dengan berbagai tata krama di tempat persemayaman para raja-raja Jawa ini.

 

Menyimak kisah dan petuah dari Mbah Jadir, sang penjaga makam para raja

Pengaruh hubungan antara Imogiri dengan Kraton membuat daerah sekitarnya terangkat. Di Dusun Giriloyo, Desa Wukirsari (masih kecamatan Imogiri) para pengrajin batik tulis khas Jogja berkembang. Munculnya sentra batik ini berawal dari keturunan abdi dalem yang biasanya membatik di lingkaran Kraton yang mengerjakan proses pembatikan di rumahnya. Lambat laun ilmu tentang batik pun menyebar ke seantero kampung.

Motif klasik seperti kawung, sekar jagad, dan berbagai motif lainnya dikerjakan dengan teliti dan detail oleh para pembatik Giriloyo. Mereka tak lekang digempur oleh kemajuan zaman dengan mempertahankan batik tulis sebagai produk utama. Setelah terkena musibah saat gempa tahun 2006, proses kebangkitan para pembatik ini juga relatif cepat. Bantuan yang datang ke Dusun Giriloyo dikonversi menjadi pelatihan-pelatihan membatik dan teknik pewarnaan alami untuk batik-batik gagrak Ngayogyakarta ini.

Tak jauh dari Imogiri, sebuah kawasan juga telah dikenal sebagai destinasi unggulan. Tepatnya di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, berbagai spot wisata hampir setiap hari dikunjungi wisatawan. Mangunan dulunya adalah kawasan minus. Karena lokasinya yang jauh dari pusat kota dan dirimbuni hutan pinus yang dilindungi negara, cukup menantang untuk membuat warganya sejahtera.

Saya bertemu Mas Ipung, salah satu penggerak masyarakat yang kini menahkodai Koperasi Natawana di Mangunan. Mas Ipung bercerita bahwa awalnya cukup sulit meyakinkan masyarakat bahwa apa yang akan dilakukan di sektor wisata akan mengubah hidup mereka. Setelah direstui oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan diizinkan oleh otorita pengelola hutan, Mas Ipung bersama masyarakat Mangunan memanfaatkan 10% dari area hutan lindung untuk dikelola sebagai destinasi wisata. Perlahan, pengelolaan pariwisata berbasis komunitas (community based tourism) mulai menunjukkan dampak bagi masyarakat Mangunan.

Hutan pinus yang dulunya hanya disadap getahnya, disulap menjadi background alam yang ciamik. Selain itu, awalnya hanya kabut pagi yang menjadi menu utama saat berkunjung ke Mangunan, namun kini berbagai atraksi wisata dan suguhan kuliner disajikan di Mangunan. Mas Ipung juga mengabarkan kalau kini Mangunan punya Pasar Kakilangit, pasar yang hanya buka di setiap hari Sabtu dan Minggu. Pasar rintisan destinasi digital dari Kementerian Pariwisata ini menyajikan kuliner-kuliner khas Mangunan. Wilayah yang dulunya cast away di sisi selatan Jogja pun kini berbenah dan semakin ramai diperbincangkan di berbagai media.

Menikmati sunrise dan kabut pagi di Mangunan

Dari berbagai destinasi yang saya tuliskan di atas, tidak mengherankan bahwa Indonesia menjadi negara yang selalu masuk dalam bucket list para traveler dunia. Maka sudah selayaknya kita sebagai warga negara Indonesia, lebih bangga untuk terus menjelajahinya dan belajar berbagai hal tentang budayanya. Tapi, kadang masih ada teman yang mengeluhkan bahwa ongkos untuk traveling ke berbagai sisi Indonesia itu mahal.

Mahal? Itu relatif. Pandangan itu berbeda bagi saya yang hobi berburu tiket promo. Kata “mahal” pun bisa disingkirkan. Salah satu cara untuk mewujudkan penjelajahan ke destinasi-destinasi favorit di Indonesia dengan budget terjangkau adalah dengan selalu mengecek laman atau apps skyscanner, salah satu penyedia info jasa transportasi dan akomodasi dari seluruh dunia. Kita juga bisa berlangganan informasi dengan subscribe di laman www.skyscanner.co.id/berita agar tidak ketinggalan promo maupun informasi menarik seputar destinasi-destinasi terbaik.

Dari fitur-fitur skyscanner lah, saya sering beruntung mendapatkan tiket pesawat murah, harga penginapan yang miring, dan bisa juga sewa mobil sesuai kebutuhan dan kondisi keuangan. Traveling ke manapun berjalan dengan nyaman.

Jadi, tunggu apalagi? Segera pilih tanggal dan persiapkan dengan baik penjelajahanmu.

Berkemaslah, kita jelajahi Nusantara!

Video sekilas saat saya menjelajahi nusantara bisa disimak di sini:

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Jogja Air Show Preparation

2 comments

  • Donna Imelda April 18, 2018   Reply →

    Nusantara emang gak habis-habis untuk dijelajahi. Semua indah

    • arif April 20, 2018   Reply →

      Betul Mbak Donna. Kalau udah pulang pengen berangkat lagi dan lagi 🙂

Leave a comment