Sketsa Merapi (3): Mozaik Mimpi Elang-elang Merapi

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
  • 27 Februari 2011 pukul 21.35

Obrolan antara Aku, Widodo, Nurul, dan Mas Ino malam itu akhirnya mengerucut dan memusyawarahkan tentang tiga garis besar program kemitraan untuk proses recovery warga Kaliadem meliputi pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan lingkungan masyarakat di kawasan Shelter Merapi Blok Gondang I, Wukirsari. Setiap tema akan diberibreak-down apa saja kegiatan yang akan dilakukan sebagai tahapan-tahapan menuju target yang telah ditentukan. Layaknya social activity yang biasa kita lakukan secara periodik selama empat tahun sebelumnya, kita diberi kebebasan untuk merancang program tanpa batasan, no constraint.

Dan jujur saja, kita seperti sedang bermimpi, karena banyak sekali tantangan yang kami hadapi mulai dari keterbatasan personel, padatnya kegiatan kami, kesiapan warga yang nantinya bukan hanya sebagai obyek namun juga subyek, dan yang paling kelihatan adalah dari mana dana yang akan digunakan untuk program-program yang akan dijalankan???

 

Tetapi entahlah, meskipun seperti ketidakmungkinan, kami yakin kami bisa membuatnya menjadi mungkin. Kami percaya tidak ada orang yang sempurna tanpa ada hambatan dalam hidupnya, pasti penuh proses perjuangan, penuh cobaan, dan tantangan. Malam itu seolah-olah kami meyakini bahwa mimpi yang kami pikirkan, kami catat, dan akan kami perjuangkan akan menjadi kenyataan.

Nurul, Saya, dan Widodo setelah bersama warga menanam 850 bibit pohon di (bekas) Dusun Kaliadem, yang tertimbun material merapi.

Nurul, Saya, dan Widodo setelah bersama warga menanam 850 bibit pohon di (bekas) Dusun Kaliadem, yang tertimbun material merapi.

Aku jadi teringat potongan syair kebanggaan yang sudah kami nyanyikan sejak awal kuliah:

I can dream the imposible • I fear not the obstacles • For if I believe in me •I can make it possible • I’ll shine my light for all to see • For a gem can’t be polished without frictions • Nor man perfected without trials”

Malam itu dari shelter nomor C2, perjalanan panjang untuk mimpi kami telah diberangkatkan.

  • 5 Maret 2011 sekitar pukul 02.00

Awalnya di balik shelter bambu itu memang banyak warga yang menghampiri, tetapi akhirnya hanya tersisa dua orang yang bertahan; Aku dan Widodo. Aktifitas kami malam itu adalah ngobrol, dan itu penting. Budaya diskusi memang sebaiknya diintensifkan, sebagai jembatan agar saling memahami, mengerti, menyamakan visi, dan proses awal identifikasi sebelum menuntaskan aksi kita di lapangan. Obrolan santai yang awalnya akan membahas panjang lebar tentang program-program yang akan dilakukan untuk warga merapi semakin melebar, lebih ke arah curhat tepatnya. Curhat tentang pengalaman dan perasaan Widodo yang empat kali pindah pengungsian menemani warga, sempat penuh peluh dan abu vulkanik merapi saat evakuasi, tentang gerakan militan untuk menarik donatur yang terkadang di luar logika, dan tak ketinggalan juga, curhat urusan cinta.

Widodo, kawanku yang satu ini memang ajaib. Satu hal yang aku catat semenjak kemunculan dia di permukaan Jogja, dia memang sering kali bingung membagi waktu karena terlalu padat kegiatannya. Hal lain yang aku tangkap, sejak dulu setiap social activity yang digarap selalu berbasis kerakyatan, tak perlu memikirkan branding yang dijual, ending-nya adalah hanya social welfare, tanpa embel-embel.

Tetapi obrolan malam sampai pagi itu sepertinya ada yang ganjil, sangat ganjil. Biasanya kami berdiskusi dengan mengawang-awang tentang potret masa depan yang kami diskusikan, tetapi entah kenapa seperti tak ada imajinasi di kepala Widodo. Is there something happened with him?

  • 6 Maret 2011 pukul 21.10

Yes, ternyata pertanyaan batinku benar. Sehari setelah diskusi berbagai macam hal Widodo menyatakan mundur dari proses perjuangan mendampingi warga Kaliadem, Cangkringan, salah satu dusun terparah akibat erupsi merapi. Seolah apa yang telah diagendakan terkubur seketika, mimpi kami kandas sebelum bertemu pelabuhannya. Namun alasannya juga cukup kuat, prioritas utamanya saat ini adalah skripsi, dan hidup mandiri. Aku tak bisa mengahalanginya, toh dia juga berhak mengurus urusan pribadinya, aku kalah telak. Ya sudahlah®.

Secara memaksa, atas nama kolektif kami berpamitan kepada warga saat kami diundang dalam rapat bersama tokoh masyarakat. Kami memaksakan kehendak secara sepihak, karena dengan sangat berat satu persatu tokoh masyarakat yang hadir pada rapat tersebut mulai menyatakan keberatan mereka jika kami tinggalkan. Meskipun dengan alasan-alasan tadi, mereka juga menyadari, bahkan mendoakan untuk kebaikan masa depan kami.

  • 17 Maret 2011 pukul 14.43

Kenapa di atas aku menyebut Widodo ajaib? Ini dia salah satu alasannya; belum genap dua minggu kemudian dia menyatakan siap untuk kembali mendampingi warga merapi. Memang aneh, tetapi keputusannya kembali beralasan kuat. Setelah mengalahkan proses ketidakmungkinan menjadi mimpi yang harus dikejar, tekadnya semakin kuat.

Siang itu dia mengirim sms kepadaku, “Bismillah… Mas, aku sudah bertemu sama Pak Henry, dan dosen-dosen yang lain. Skripsi juga akan dibuat berbasis data di shelter. Jadi bisa diputuskan aku akan “setia” sama warga“.

Jantungku langsung berirama kencang, seolah gerimis yang mengguyur Jogja saat itu berdendang lagu kemenangan, tanganku ikut tersenyum mengetik balasan sms untuknya. Di sisi lain, Nurul yang sedang dalam proses penyembuhan masa sakitnya langsung menyambut dengan mengajak bertemu langsung akhir minggu ini di Shelter Gondang I Wukirsari.

Kelompok relawan kami, pasti mengingat lanjutan syair kebanggaan yang berjasa besar menyatukan kami,

Like an eagle we spread our wing • Soaring high in the sky of dreams • Always strive to be the very best • And help other to soar as high”.

 

Ya, kami memang diajarkan seperti elang yang melebarkan sayap dan terbang tinggi di langit impian. Kami mungkin bukan yang pertama, tetapi kami ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa. Kami ingin mewujudkan mimpi sederhana kami, menolong saudara-saudara yang menjadi bagian dari bangsa ini agar dapat meningkatkan sisi kehidupan yang lebih baik lagi.

Akupun tak mampu membohongi diri, bahwa yang ada di benakku adalah bayangan-bayangan tatapan berbinar anak-anak Kaliadem saat belajar bersama, memahami ketukan musik, atau saat bermain bersama mereka. Aku terlalu lemah untuk menepis kenyataan bahwa berkali-kali tidurku dihinggapi mimpi bersama warga merapi. Nurul juga selalu gelisah ketika memikirkan bagaimana keadaan shelter di waktu hujan saat kami tinggal sementara. Dia selalu tergerak untuk berusaha melengkapi kebutuhan-kebutuhan yang bisa diusahakan untuk warga. Konsentrasi Widodo juga selalu goyah dan terus-terusan khawatir jika ada pihak yang tidak memuaskan dalam mendampingi warga. Dalam batin kami secara bulat bertanya-tanya “Apakah kami kuat menahan teriakan hati kecil yang selalu saja tidak tega melihat keadaan warga?”.

Untuk saudaraku sehati sevisi, mari kita perjuangkan mimpi-mimpi anak-anak agar kembali ceria dan berkarakter kuat untuk menyambung masa depan bangsa. Untuk para pejuang mimpi, sudah sepatutnya kita bersemangat untuk merangkai program-program untuk menggerakkan perekonomian warga. Untuk sahabat saiyeg saeka praya, sebisa mungkin kita usahakan kawasan hijau dan sehat di shelter kita tercinta. Saatnya kita mencari teman dan saudara yang masih mau berjuang dan memikirkan dana yang dibutuhkan untuk kegiatan-kegiatan warga bersama-sama. Jika ini kehendak Tuhan, mimpi untuk menciptakan Shelter Kaliadem yang mandiri dan harmonis pasti dimudahkan dan diberi keridhoan.

Masjid Kaliadem yang baru, di Shelter Gondang I, Wukirsari, Cangkringan.

Masjid Kaliadem yang baru, di Shelter Gondang I, Wukirsari, Cangkringan.

______________________________

Ditulis di Jogja, pukul 04.34 Jumat 18 Maret 2010, sambil mengolah data penduduk Kaliadem dan mendengarkan lagu “Spread our wings”.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment