Sketsa Merapi (1); Yang Saya Dapatkan Selama Menjadi Relawan

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Seingat saya, siang itu sekitar pukul 09.00 20 Januari 2011, saya keluar dari kos menuju Posko Merapi Sariharjo seperti biasanya. Sesampai di posko, saya langsung ditemui Mbah Sosro dan bersiap menuju RSUD Sleman. Saya memang sudah berjanji sehari sebelumnya, akan mengantar Mbah Adi Saminem (Ibu dari Mbah Sosro) untuk memeriksakan sakitnya di sana. Ternyata bukan hanya Mbah Adi Saminem yang sakit, Mbah Pujo yang umurnya diatas 70 tahun pun ikut di dalam rombongan menuju RSUD Sleman bersama saya, katanya dia juga sakit.

Sekitar 2 jam kami menunggu hasil pemeriksaan dokter penuh cemas. Di saat yang sama saya juga terus memonitor handphone, ada dua janji yang harus saya tepati, pertama dengan dosen saya untuk menyerahkan pekerjaan yang ditugaskan, yang kedua dengan adik kelas saya yang ingin berdiskusi tentang program KKN. Duh, dilematis. Ndilalah saya membawa laptop, di ruang tunggu RS saya mengirim pekerjaan saya via email dan kutuliskan di bawahnya “Maaf Pak, saya tidak bisa menemui Bapak karena harus mengantar pengungsi yang sakit di RSUD Sleman”. Dan di sela-sela menunggu saya tetap merayu dua adik kelas saya agar tetap sabar menunggu melalui sms, “sebentar lagi saya pulang dan menemui kalian, sabar dulu ya, dengan kalian menunggu kalian juga terlibat sebagai relawan”.

Sekitar pukul 13.00 pemeriksaan selesai, tinggal mengambil obat yang telah diresepkan. Tidak jadi opname ternyata. Baiklah, saya bersiap untuk kembali ke posko dan kembali mengirim sms kepada adik kelas saya “Sudah selesai. Sebentar lagi saya sampai”. Tiba-tiba Mbah Adi Saminem duduk sambil memejamkan dan membuka mata berkali-kali. Ketika saya dekati dan kutanya kenapa, dia menjawab dengan terbata-bata “sssaakit sekali maaas”. Dengan panik, saya papah Mbah Adi menuju UGD. Sesampainya di sana, petugas yang jaga menyuruh kami menunggu, mungkin itu reaksi dari pemeriksaan tadi. Di sisi lain, tubuh Mbah Adi bergetar kencang. Kulitnya memucat. Mata terpejam. Kenapa ini?

Akhirnya Mbah Adi terbaring di ruangan UGD. Setengah jam kemudian, dokter spesialis yang menanganinya datang dan memeriksanya. Hah… sedikit tenang sekarang. Setelah pemeriksaan selesai, Mbah Adi diperbolehkan pulang. Dan ternyata dua adik kelas saya masih setia menunggu. “Hehe, maaf sekali membuat kalian menunggu begitu lama. Sudah pada makan? Kalau belum ya sama, saya juga belum sarapan.”

Saya juga masih ingat ketika menjenguk Mbah Perwito di sebuah bangsal di RSUD Sleman. Saat itu beliau didampingi oleh kakaknya, Mbah Karyo Iyoso, keduanya berusia di atas 60 tahun. Sambil mengunyah sirihnya, Mbah Karyo merasa senang masih ada yang peduli dengan keluarganya, dan juga masyarakat korban Merapi. “Maturnuwun yo Mas, kowe wis tak anggep keluargaku dewe, mugo-mugo uripmu kepenak-Terima kasih ya Mas, kamu sudah dianggap keluargaku sendiri, semoga hidupmu bahagia”.

Dari situlah saya belajar bagian-bagian dalam hidup. Saat mengantar balita kecil seperti Keyla dan Kenes, atau Ibu Kitri, Ibu Tarmi, dan lainnya ke RSUD Sleman. Saya belajar bagaimana perasaan ayah, ibu, atau saudaranya di bawa ke RS, dibaringkan di bangsal, ditusuk jarum suntik, bahkan saat kulit mereka ditembus jarum infus.

Dari barak pengungsian merapi saya juga belajar memahami perasaan seorang anak yang ingin membeli mainan, ingin menonton acara tv kesayangannya, berangkat ke sekolah, atau bermain berlarian dengan teman-temannya.

Saya juga diajarkan untuk menjaga perasaan agar terus bersabar menghadapi ujian, saat semua yang kita kumpulkan hilang seketika. Saat harus menipu air mata dengan sebaris senyum di balik hati yang benar-benar terluka.

Terkadang saya juga merasa penuh peluh, terpontang-panting mengurus keperluan warga, namun semuanya hilang saat sambutan senyum cerah hadir saat bertemu mereka. Terlebih saat menyadari, bahwa masih ada pundak lain pada pribadi-pribadi relawan yang benar-benar tangguh berjuang.

Kami masih ingat 27 Oktober 2010 silam, tidur beralaskan rumput beratap langit, saat pertama kali mendampingi pengungsi di depan barak Kepuharjo. Kami juga masih ingat, tim kami mungkin yang pertama kali menyapa anak-anak dengan trauma healing seadanya di barak SMKN 1 Cangkringan, membagi susu, dan mendistrbusi paket logistik.

Ingatan kami masih kuat, 30 Oktober 2010 Merapi kembali meletus sekitar pukul 00.30. Dalam keadaan panik, lampu padam, sebagian orang berlarian, kami masih bertahan sampai akhirnya tertidur kecapekan di depan tenda, di bawah hujan abu, dalam keadaan gelap pekat.

Tim kami tetap mengingat, saat 4 November 2010 terseok-seok mengusung warga beserta barang-barangnya menuju barak pengungsian Umbulmartani, demi menghindari sapuan awan panas merapi.

Kami juga masih mengingat, saat puluhan ribu orang panik, lelah, dan pasrah berkumpul di Stadion Maguwoharjo karena zona aman diperluas sampai 20 km akibat letusan besar Merapi 5 November 2010.

Kami juga mengikuti pengungsi merapi, saat malam-malam turun hujan mereka berpindah ke Balai Desa Sariharjo yang menjadi tempat pengungsian keempat.

Di Balai Desa Sariharjo, 3 bulan kami hidup bersama, satu barak, satu atap, satu dapur, satu perasaan. Kami bermain dengan anak-anak, mengajari mereka tentang berbagai pelajaran yang sulit diselesaikan di sekolah, menggendong, menonton film bersama, menggambar, menata puzzle. Kami juga beradu pikir menyusun proposal, berlari ke berbagai arah mengharap kerelaan dermawan, memanggul beras, mengukur seragamn dan sepatu, mencari dan menerima segala macam bantuan lalu mendistribusikannya, menemani ibu-ibu menyelesaikan kreasi keterampilannya. Kami berdiskusi bersama di dapur umum sambil memasak seadanya, bermain catur di sekretariat, menyanyi beberapa bait lagu, bermaingame sederhana, sholat jamaah di mushola, menanam pohon, memancing bersama, menemani pentas jatilan karya mereka.

Sketsa Merapi

Sketsa Merapi

Kini kegiatan selama empat bulan itu terlintas membekas di kepala, hati, dan setiap jangkahan kaki. Semua seolah membuat coretan-coretan dalam sketsa merapi. Angka di kalender akhirnya menikam 15 Februari 2011, tanggal yang telah ditentukan secara mufakat untuk melepas kepindahan warga Kaliadem menuju ke shelter atau hunian sementaranya.

Tiba saatnya satu persatu tangan disodorkan ke depan untuk bersalaman. Tetapi seolah tangan ini tak rela, seolah keakraban dengan warga tak ingin diberi jeda. Kami terhuyung, tak kuasa menahan deru. Bahu kami roboh, dan jatuh dalam pelukan dan tangisan warga.

Tangis haru melepas warga menuju shelter mereka

Tangis haru melepas warga menuju shelter mereka

Maafkan kami…. Maafkan kami Pak Sakijo, Pak Sukir, Pak Sambi, Pak Sokiran, Pak Dalimin, Pak Nardi, Pak Sriyono, dan semua warga, kami hanya pemuda-pemudi tak bermodal yang belum bisa sepenuhnya membantu mendirikan kembali kehidupan warga merapi. Maafkan jika ada program-program yang belum terealisasi, maafkan jika bantuan kami tak seberapa selama mendampingi warga.

Maafkan kami Mas Gondrong, Mas Kirjo, Mas Jumar, Mas Ngadiran, Mas Supri, Mas Anton, Mas Mesran, Mas Rudy, Mas Agus, Mas Eko, dan teman-teman, mungkin kadang kami kelewatan, mengganggu istirahat kalian, meminta kerelaan panjenengan untuk membantu beberapa pekerjaan.

Maafkan kami Fitri, Deny, Ika, Gangsar, Rony, Ruly, Irfan, Arum, Yani, dan semua anak-anak, mungkin kami belum maksimal membantu mengajari pelajaran yang susah dari sekolah. Maaf jika terkadang tidak bisa memutar film yang dinantikan.

Maafkan Mas Arip ya Bima, Levi, Fatah, Icha, dan kawan-kawan. Mas Arip hanya bisa menyediakan punggung dan tangan untuk menggendong kalian. Maafkan Mas Arip, Mas Arip tak punya banyak uang untuk membelikan kalian mainan. Maafkan Mas Arip…

Terima kasih untuk para dermawan, uluran tangan anda benar-benar meringankan mereka yang membutuhkan. Segala macam bantuan yang diberikan adalah kesejukan yang membuka harapan untuk menyambung masa depan.

Terima kasih Bu Dukuh, Bu Fitrah, Bu Rejo, Bu Mitro, yang selalu mengingatkan kami untuk makan. Terima kasih Bu Ngatinah yang telah menyelimutiku saat tertidur kecapekan di tengah barak pengungsian. Terima kasih Mbak Marti dan Mbak Inem atas paket kenang-kenangan yang diberikan.

Terima kasih warga Kali Adem dan warga merapi yang telah mengajariku, bahwa santri tak harus berpeci, sarjana tak harus berkemeja, dengan sabar membimbingku menemukan tujuan hidupku yang selama ini kucari. Terima kasih telah mengajari kami, tentang bagian-bagian penting siklus kehidupan, tentang arti sabar dan tawakkal, persaudaraan, keramahan, tentang makna ikhlas yang tak bisa kami dapatkan di sekolah manapun selain sekolah kehidupan.

Maafkan kami, dan terima kasih warga merapi. Suatu saat kami akan kembali. Suatu saat kita pasti hidup lebih baik lagi.

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment