Sebaiknya Menikah Tepat Waktu atau di Waktu yang Tepat?

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Saya sebelumnya tak pernah membayangkan akan menikah di usia 26 tahun. Umur tersebut adalah masa di mana saya begitu menikmati dunia petualangan. Saat itu saya baru kembali dari Papua, masih hangat-hangatnya. Tanpa berpikir lama, saya menikahi seorang gadis asal Jogja yang setahun lebih muda dari saya. Mumpung dia mau, batin saya.

Secara usia, 26 tahun memang sudah layak untuk menikah. Tetapi dari sisi kemapanan, saya masih jauh tertinggal. Saat saya menikah, jangankan mapan, saat itu saya sedang tak punya pekerjaan!

Namun sampai kapan saya masuk kategori mapan?

Mapan, satu kata ini mungkin menjadi barrier tersendiri bagi muda-mudi yang hendak mengarungi bahtera rumah tangga. Kata yang dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya) ini seakan menjadi momok saat setiap lebaran ditanya “kapan?” Mapan sering dikaitkan dengan kemerdekaan finansial. Cerminannya bisa dari kondisi pekerjaan yang nyaman, kepemilikan tempat tinggal atau bahkan kendaraan.

Selain masalah mapan, saya (dan mungkin kaum bujang lainnya) juga berhadapan dengan tekanan dari keluarga. “Mau nunggu apa lagi, Jang? Kamu sudah selesai kuliah. Umurmu 26 tahun lho! Buruan menikah to, Jang.”, demikian kata Ibu saya, selalu ‘menyemangati’. Bapak saya yang pensiunan Penyuluh Keluarga Berencana pun meyakini bahwa usia saya sudah sangat ideal untuk menikah.

Tak salah memang apa yang dikatakan Ibu dan Bapak. Saya dan calon istri waktu itu dianggap sudah memasuki umur di mana seseorang mampu bertanggungjawab atas apa yang dikerjakan. Secara fisik, tubuh kami sudah siap. Kemampuan otak dalam menganalisis masalah juga telah terlatih. Serta tak kalah penting, kondisi psikis kami dianggap mampu menghadapi fluktuasi hidup yang super menantang.

Akhirnya menikah

Akhirnya menikah

Ternyata pendapat Ibu saya diperkuat dengan komentar Juliana Murniati, seorang psikolog yang mengutarakan bahwa di usia 25 tahun seseorang sudah cukup matang untuk membina keluarga. Mengapa demikian? Karena jika dikaitkan dengan jenjang pendidikan, seseorang yang berusia 25 tahun diasumsikan telah menyelesaikan pendidikan setara sarjana. Kalaupun sudah bekerja, setidaknya telah memiliki pengalaman 1-2 tahun di dunia profesional.

Namun di balik komentar Ibu saya, ada paradigma lama terselip di sana. Ketika saya menengok teman seangkatan saya, memang saya tergabung golongan minoritas yang belum menikah. Teman-teman SD seangkatan kebanyakan menikah sebelum dan di awal umur 20-an. Bisa jadi Ibu khawatir saya dilabeli ‘bujang tua’.

Perlu disadari bahwa banyak sekali latar belakang menikah di usia muda, salah satu yang menjadi pertimbangan adalah agar bisa menyaksikan cucu-cucunya sukses saat usia senja tiba. Namun perlu diperhatikan bahwa saat seseorang berusia 20 tahun, fase kematangan emosi, independensi, dan mengidentifikasi jati diri belum maksimal.

Dalam sebuah wawancara Juliana Murniati menambahkan bahwa “Mengurus diri sendiri saja dan mengatasi gejolak tantrumnya masih belum mampu, apalagi jika pernikahan itu kemudian diikuti oleh kehadiran anak, hal ini tentu memunculkan persoalan sendiri,”.

Sebagai tambahan, salah satu hasil penelitian tentang usia menikah yang ideal tahun lalu dipublikasikan oleh seorang sosiolog dari University of Utah. Berbekal data dari Survei Nasional Pertumbuhan Keluarga Amerika Serikat selama periode 2006-2010 dan 2011-2013, Nick Wolfinger melakukan analisis.

Hasilnya? Di Amerika, usia ideal untuk menikah adalah antara akhir usia 20-an atau awal 30-an (lebih spesifiknya 28-32 tahun). Jika menikah saat memasuki akhir usia 30-an hingga awal 40-an, keinginan untuk bercerai cenderung meningkat.

Dari beberapa pendapat para pakar tersebut setidaknya muncul kesimpulan sederhana; sebaiknya menikahlah di waktu yang tepat, tidak terlalu muda maupun tidak terlalu tua. Lalu, bagaimana kehidupan saya setelah menikah? Challenging and amazing! Dua kata tersebut mewakili dari sedemikian banyak gambaran yang saya rasakan bersama istri. Yang paling terasa adalah masalah ego. Saya yang egois, super cuek, dan memiliki kebiasan mbolang ke sana-sini seakan diminta untuk berkompromi setelah menjadi suami.

Tiga minggu setelah menikah, saya diterima untuk bekerja di sebuah lembaga non profit di Jakarta. Dengan gaji yang lumayan, kami putuskan untuk merantau. Baru seminggu bekerja, istri saya positif hamil. Alhamdulillah! Namun di sisi lain, kami menghadapi tantangan. Kondisi perutnya akan semakin membesar, dan kami harus mencari tempat tinggal yang lebih layak dari sekadar kos-kosan.

Beruntunglah waktu itu kami menemukan sebuah apartemen yang relatif murah untuk disewa. Di sebuah apartemen tipe studio lantai 6 di bilangan Cawang, kami berdua beserta jabang bayi menikmati fase-fase pertama hidup berumah tangga. Sebagai pasangan muda, bulan-bulan pertama pernikahan dilalui dengan merdeka karena jauh dari orang tua.

Setahun setelah menikah, putri mungil kami lahir. Ada perasaan haru bangga saat melihat bayi merah di ruang persalinan. Kami bahagia karena dikaruniai anak yang sempurna. Namun batin saya bergejolak. Anak sudah terlahir selamat, namun rumah untuk bermain bersamanya belum punya.

Tantangan berikutnya adalah saat memutuskan untuk merawat anak sementara saya dan istri ingin bekerja memenuhi nafkahnya. Tak jarang pula, kami berselisih paham dengan aneka sebab. Mulai dari masalah menyapu halaman, memilih kontrakan, hingga pendapat dengan orang tua yang berseberangan.

Di sinilah kematangan (bukan kemapanan) diuji. Saya bersyukur karena istri saya selalu bisa menenangkan saya sehingga sifat temperamen mulai mengendor. Kami mengakui bahwa usia kami yang semakin bertambah menambah kedewasaan dalam menghadapi berbagai tantangan berumah tangga.

“Tiga tahun pertama hidup denganmu, kaya naik roll coaster Mas”, curhat istriku di suatu malam. Istri saya yang sebelumnya selalu dimanja, mau memaklumi bagaimana suaminya melatih dirinya menjadi wonder woman bagi keluarga.

Sang wonder woman dan bidadari keluarga

Sang wonder woman dan bidadari keluarga

Menikah di waktu yang tepat memang diharapkan mampu mengarahkan suasana batin kita dan pasangan lebih berani menghadapi berbagai perubahan. Apalagi di awal-awal pernikahan yang hampir semuanya butuh penyesuaian.

Saat ini kami sudah tiga tahun menikah, dan saya sudah ganti empat jenis dan empat tempat kerja. Meskipun penuh tantangan, justru kami semakin banyak belajar dan saling menguatkan saat berhadapan dengan berbagai dinamika.

Menikah adalah proses mencari equilibrium baru yang lebih baik. Bukan berarti nekad, tapi keberanian dengan segala perhitungan menjadi modal utama. Waktu adalah salah satu hal yang perlu dihitung dengan tepat. Maka bagi para kaum bujang, tentukan di usia berapa Anda akan berada di titik yang diidamkan? Menapaki puncak karir contohnya.

Bukannya akan semakin indah jika saat berjuang menuju ke sana didampingi oleh seseorang yang Anda sayangi? Maka selanjutnya hitung mundur, di usia berapa sebaiknya Anda menikah? Di sinilah, arti penting menikah tepat waktu.

Selain memproyeksi puncak-puncak pencapaian dalam hidup, kita juga harus memasukkan faktor pasangan. Jangan sampai orang yang Anda kasihi ‘berbelok di tikungan’ gara-gara menunggu Anda yang terlalu banyak persiapan.

Meskipun demikian, keputusan menikah kembali lagi pada karakter dan kondisi yang dihadapi tiap individu. Menikah bukan sekadar untuk hits di media sosial karena timeline dipenuhi foto-foto kondangan maupun bayi-bayi imut bukan? Menikah adalah proses sakral yang secara agama dan hukum negara diakui sebagai pintu gerbang menuju kebahagiaan di masa depan.

 

Referensi:
Math Says This Is the Perfect Age to Get Married Fenomena Nikah Muda
Ini Usia Ideal Menikah Menurut Psikolog

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment