Perjalanan 3 in 1

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tibalah waktunya, Jumat pagi 17 Juni 2011, Aku dan Wulan menjadi dua orang pertama yang dilepas dari kota Fak-fak menuju kampung pengabdian kami. Mulai hari ini dan setahun ke depan, Subkhi akan berdiri di ujung Fak-fak karena ditempatkan di distrik Bomberay, MJ di ujung yang lain karena mendapat kampung cantik dengan raja Arguni di Distrik Kokas. Disusul Eky yang berada di Kampung Baru, satu distrik dengan MJ. Lalu ada Angga di Distrik Karongmomongga, Ika di Kampung Siboru, dan Adhiti di Kampung Offie, sebuah kampung yang akan menelusuri bukit untuk ke sana kemudian bertemu teluk yang bernama Teluk Patipi. Gerimis masih menaungi Kota Fak-fak pagi itu. Tapi dengan perhitungan matang, Pak Moi dan Pak Bless menyatakan kalau inilah saat yang tepat untuk menyeberang.

“Its gonna be fun”, Wulan berkata padaku saat mendudukkan badannya di atas long boat, kata-kata yang lebih kuartikan sebagai penyemangat bagi dirinya sendiri. Kapal laut yang hanya berukuran sekitar 10 m x 0,9 m mulai bergoyang-goyang di atas lautan Fak-fak. Gerimis terus mengiringi perjalanan ketigaku bersama ombak yang mulai mengguncang long boat. Kini perjalananku menuju kampung pengabdian lengkap dengan tiga jenis transportasi; udara, darat, dan air.

Akhirnya kami berbincang tak terarah sekedar untuk menghibur diri, mulai dari rasa penasaran seperti apa kampung pengabdian kami, suasana sekolah dan masyarakatnya, cara kami untuk membunuh kejenuhan karena tak ada sinyal telekomunikasi, sampaingelantur tentang mimpi-mimpi yang akan diperjuangkan masing-masing setelah setahun selesai mengajar di Kota Pala ini.

Sekitar kurang dari setengah jam dari perjalanan, guncangan ombak semakin kencang. Ketika gelombang datang dari depan, long boat akan terangkat, dan saat akan kembali ke posisi semula pasti terdengar “duuuk”, seperti menabrak benda keras. Usut punya usut, ternyata memang seperti itu bunyinya saat kapal ini memecah gelombang dan jatuh dari guncangan ombak ke posisi semula. Aku hanya tersenyum santai menyembunyikan kecemasanku dengan keadaan ini. Di sisi lain, raut wajah Wulan sudah sangat kelihatan kepanikannya. Tetapi katanya “its gonna be fun” kan?

Mulutku mulai bergumam mengusir kegelisahan karena berkali-kali long boat terguncang,“Bangun pagi sinar mentari hangati hati, seiring Bob Marley nyanyikan lagu cinta. Aku belum mandi dan gosok gigi, aku sudah di air. Dengan segelas kopi kupandang lautan lepas”. Lagu tentang anak pantai itu seolah membuatku tersadar bahwa di balik perjalanan ini sebagian apa yang aku inginkan sebentar lagi tercapai. Kalau dulu hanya sering berkunjung di pantai, sekarang aku akan hidup di pantai, adat dan budaya pantai, dan penuh dengan keceriaan pantai!

1 jam lebih kami sampai di Kampung Urat, 15 meter sebelum bibir pantai, sudah terlihat rumput laut bergoyang di atas pasir putih dan di bawah air laut sana. Aaaaaaaah, ini kampung wulan, indah sekali. Rasanya impas harus melalui perjalanan dengan guncangan yang kami rasakan di kapal tadi jika akan bertemu kampung seindah ini. Tanpa banyak berbincang, Pak Bless mengamanatkan kepada Kepala Kampung dan masyarakat bahwa Ibu guru Wulan harus dijaga. Setelah semua barang-barang Wulan diturunkan dari long boat, kami langsung berpamitan karena harus melanjutkan perjalanan.

Kini tinggal aku yang mereka antar. Ibu Yundri (Officer Indonesia Mengajar) beberapa kali mengingatkan, “Ombak menuju tempatmu—Kampung Tarak, Distrik Karas—cukup menegangkan Rif, hati-hati”. Dan benar saja kenapa tadi malam Pak Moi dan Pak Bless berdebat seru tentang proses pengantaranku, ombak menuju Kampung Tarak dua kali lebihjoss daripada menuju tempat Wulan. Guncangannya juga lebih kurasakan di sini. Tapi aku menikmatinya. Beberapa kali aku melintasi kepulauan penuh dengan pohon yang lebat di atasnya, dengan pasir putih yang melintang sebagai alas di bawahnya. Seandainya langit cerah, pasti sudah kuabadikan ketakjubanku saat perjalanan ketigaku ini.

Setelah satu setengah jam perjalanan long boat yang hanya diisi tiga orang layaknya mobil mewah membelah jalanan ibukota, akhirnya mulai terlihat suatu pulau. Pak Bless bilang “Di balik pulau ini, akan terlihat satu kampung, ini rumah kau Arif”. Yuuuhuuu, terlihat pasir putih membentang di sekeliling pulau. Laut hijau di depannya menunjukkan kekayaan alam yang terkandung di bawahnya. Dan lihat, di belakang rumah-rumah itu tumbuh pepohonan rindang menyemut di sekujur bukit. “Itu sekolahmu Arif”, Pak Bless menunjuk ke bangunan bertiang bendera. Oh Gustiiii, sekolah yang akan menjadi medan juangku punya halaman luas, pasti anak-anak senang bermain bola di sana. Lapangan itu dipagari oleh pohon-pohon kelapa yang menyatu dengan bibir pantai. Ah, anak pantai sekarang naik pangkat jadi guru pantai! Pohon rimbun tersusun tepat di belakang sekolahku, anak-anak pasti akan mengajakku ke sana, ke laboratorium alam yang hebat ini!

sekolahku, hanya 2 ruang kelas, dan 2 orang guru. Tak punya perpustakaan tapi laboratoriumnya alaminya besaaar! :)

sekolahku, hanya 2 ruang kelas, dan 2 orang guru. Tak punya perpustakaan tapi laboratoriumnya alaminya besaaar! 🙂

Halaman depan SDN Tarak

Halaman depan SDN Tarak

Long boat akhirnya bersandar di bibir pantai. Pak Bless mencari kepala kampung, kemudian menyatakan bahwa aku yang akan menjadi guru muda di kampung ini, sambil menanyakan siapakah orang tua angkatku selama di sini. Ternyata Bapak Kepala kampung inilah yang akan menjadi ayah angkatku. Senang sekali. Barang-barangku diangkat bersama-sama memasuki rumah baruku.

Sambil melepas Pak Bless, kembali kubalikkan pandanganku. Kini kakiku telah membawaku ke Kampung Tarak, Distrik Karas, Fak-fak, Papua Barat. Setahun akan kulalui di rumah ini, dengan pemandangan pantai berpasir putih di halaman depan, dan hutan di halaman belakang.

Rumah baruku

Rumah baruku

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment