Mata Kuliah dari Merapi

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sore itu seorang gadis muncul bersama seorang perjaka muda, bersama sekitar sepuluh anak kecil berjalan mengiringi mereka ke arah pintu keluar sebuah balai desa. Seketika muncul seorang pemuda yang menggendong balita membawa sekotak kue. “Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta muliaaaaaaa”. Nyanyian ulang tahun membahana. Seperti itulah selebrasi ulang tahun Lini Veriony yang ke-21 di pengungsian Balai Desa Sariharjo, sekalipun wajah dan tangannya masih terlihat jelas bekas luka setelah kecelakaan. Kecelakaan tunggal akibat dia terburu-buru saat mengurus minyak tanah untuk keperluan warga Kali Adem, daerah yang cukup parah terkena erupsi merapi 2010.

Lini saat trauma healing bersama anak-anak Kaliadem

Lini saat trauma healing bersama anak-anak Kaliadem

Lini, sejak dulu adalah anak manja. Tetapi kemanjaannya ternyata dapat dimanfaatkan untuk menaklukkan anak kecil selama menjadi relawan. Sampai suatu hari seorang balita bernama Fahri, menangis karena Mbak Lini pulang sebentar dari pengungsian. Lini anak yang manja, dan selalu ceria. Masih teringat keceriaannya saat tanggal 27 Oktober 2010 sekitar pukul 21.00 motor kami mogok sebelum sampai di barak pengungsian, sampai akhirnya kami ditolong pemuda setempat, dan tidur beratapkan langit beralaskan rumput di depan barak Kepuharjo.

Beda cerita dengan perjaka yang mendampinginya saat berjalan tadi, Widodo namanya. Namanya yang cukup satu kata membuatnya bingung ketika berurusan dengan situs jejaring dari luar negeri. Sampai akhirnya dia memberi nama “Mas Wied”, biar ada first dan last name-nya. Haha. Sosok Widodo adalah sosok biasa saja. Sekali lagi, Widodo adalah biasa saja. Sudah itu saja. Haha

Di antara mereka berdua, ada seorang pemuda pengangguran terselubung yang masih berkeliaran, Arif L. Hakim namanya. Semboyan “tampang rambo hati romeo” dipaksakan dengan penampilannya yang sangar layaknya preman pasar. Tak heran aktivitasnya adalah memanggul logistik berkarung-karung dan berdus-dus, seolah-olah jaga malam di pengungsian untuk menutupi kebiasaan begadangnya, dan sering bergerilya menerobos zona aman merapi hanya untuk mendapatkan foto dan video keadaan kampung yang hilang akibat erupsi. Keahliannya yang lain adalah mencari alibi saat orang tuanya bertanya tentang pekerjaan tetap, dengan tujuan agar bisa bertahan menjadi relawan. Haha.

Selain kami bertiga, masih ada makhluk aneh sejenis alien bernama Jafar Junaidi. Haha. Orang super sederhana ini luarrrr biasaaaaaa, anehnya. Keahliannya sebagai bagian dari keluarga Teknik Elektro UGM adalah merangkai rangkaian barang-barang elektronik entah itu konduktor, transistor, dan perangkat bermotor lainnya. Atas keahliannya merangkai tersebut akhirnya dialah yang secara tidak sengaja dikutuk merangkai acara-acara di tempat pengungsian. Pukul 09.00 ada acara pengajian untuk ibu-ibu, pukul 14.00 ada TPA untuk anak-anak. Pukul 19.30 ada acara hiburan. Dan pukul-memukul lainnya semua dirangkai layaknya rangkaian yang telah disolder.

Mahmudah Nurul Hidayah, gadis imut ini memang orang lapangan (meskipun jauh dari bayangan seperti gawang ataupun wasit pertandingan di sebuah lapangan sepakbola). Nurul selalu menyuguhkan ketelatenannya saat berimprovisasi di lapangan. Saat dia bertanggungjawab mengurus perlengkapan anak sekolah, kelakuannya persis seperti tukang jahit dan tukang sol sepatu. Hahaha. Setiap anak usia sekolah yang dipanggil diukur ukuran bajunya, lalu kakinya disesuaikan dengan sapu lidi. Brilian.

Tim Relawan Woyo-woyo Joss!!

“Kok lagunya cengeng-cengeng tho mas?” Tanya Mas Anton (warga Kali Adem) kepada Dimas. Dari sinilah bakat terlebay Dimas Umar Rahman kelihatan, meraung-raung dan meratapi nasib dalam urusan cinta, sekali lagi C.I.N.T.A.. Dimas memang terpanggil hatinya saat mengetahui teman-temannya ternyata telah menjadi relawan. Jadilah dia sekarang aktif mengurusi logistik barang, bongkar pasang viewer dan screen untuk nonton bareng, dan terkadang mengadakan kegiatan bersama anak-anak kecil di pengungsian.

Suatu malam jogja kembali menikmati gerimis, cuaca cukup dingin, namun dengan elegan tiga kotak martabak tersuguh di depan kami yang sedang melakukan koordinasi alias rembugan tentang program-program pemberdayaan ke depan.

Soraya Najiba, bukan penjual martabak tentunya, tetapi dia adalah oknum yang membawa kehangatan dengan martabak yang dibawanya. Gadis kalem ini juga terpanggil untuk datang ke arena balai desa ini untuk memberikan segala daya upayanya mendampingi warga. Di antara seabrek praktikum dan aktivitas perkuliahan yang menekannya dia berupaya untuk menjadi relawan.

Mereka kemudian dirangkum oleh orang biasa tadi, Widodo. Dari bentuknya memang jelas dia bukan orang kota. Namun secara manajerial kemampuannya bahkan seperti manajer perusahaan ibukota. Keputusannya dengan kata-kata khas “dikondisikan” cenderung strategis. Irama bekerjanya sangat dinamis. Dan akses pencarian donator untuk warga korban erupsi merapi sangat fantastis.

Tuhan mungkin telah mengetahui semuanya yang telah dan akan terjadi terhadap kita. Namun kami seolah-olah sedang menelusuri jalur takdir kami bersama-sama. Kenapa dulu kita pernah masuk ke SMK N 1 Cangkringan, padahal di depan tenda kami juga ada barak pengungsian? Kenapa kami ikut pindah sampai ke Umbulmartani? Kenapa kami tiba-tiba mencari warga Kali Adem di antara puluhan ribu orang di Stadion Maguwoharjo? Kenapa kami tetap mengantar mereka berpindah ke Balai Desa Sariharjo?

Kenapa kami tetap bertahan menemani babak baru episode kehidupan 469 orang warga Kali Adem di sini?

Kami memang tak pernah didesain untuk menangani korban bencana. Kami hanya segelintir orang di antara sedikit orang yang masih ingin terus belajar. Dan kami sebagai relawan merasa mendapat pelajaran berharga mengalami semua kejadian ini. Ketegaran mereka benar-benar membuat hati kami tersentuh, tak pernah sekalipun kami melihat warga Kali Adem menangis meratapi hilangnya rumah, sapi, harta, bahkan kampung yang sangat mereka cintai. Kami belajar bagaimana untuk tetap survive, bagaimana mengurus kehidupan dengan sedikit kekuatan yang tersisa. Dengan kemampuan terbatas kami bersama-sama bekerja untuk berusaha memenuhi kebutuhan dasar mereka meski sementara. Kami beruntung diberi kesempatan mempelajari berpuluh-puluh SKS mata kuliah dalam universitas kehidupan selama mendampingi korban erupsi merapi kali ini. Kami selalu berusaha mencari celah untuk tersenyum sekalipun keadaan sangat susah. Kami belajar untuk tetap tegak berdiri dengan semangat dan harapan-harapan masa depan yang lebih baik.

Balai desa Sariharjo.

Tahun 2010. Pukul 12. Tanggal 12. Bulan 12.

satu setengah bulan di pengungsian.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment