Hari Yang Sempurna

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

00.30 2 Maret 2011.

Sudah masuk bulan ketiga tahun ini rupanya. Sejenak berpikir dan mengingat, dua bulan yang lalu aku meyakinkan diri bahwa ketika kalender menunjuk Maret, aku tidak di bumi kraton ini. Mungkin ke ujung timur, atau aku sedang mencebur di ujung barat. Tidak rupanya, kaki ini masih menapak di sini, Yogyakarta. Gagal? Bukan itu kukira. Aku bukan gagal menggagas asa.

Dini hari itu aku menikmati gelombang angin yang bertiup. Dari dua lelaki yang tertidur di depanku masih terdengar irama tidur yang melantunkan nada harapan. Di sampingnya masih terjaga seorang mahasiswi mengejar deadline keterampilan. Sepersekian jam sekali, terdengar suara seng yang terkena terpaan angin yang terbirit-birit. Hawa dingin yang menelusup bilik bambu tak mampu menyembunyikan kelemahan kulitku. Aku menikmati dingin ini.

Aku juga menikmati tetesan air ini. Getaran tulang yang menyelinap mencoba kuterjemahkan bahwa ini karunia Tuhan. Terasa hangat sudah hati ini bersujud di depan-Nya. Membicarakan urusan seisi dunia yang kuhadapi secara nyata.

Rebah sesaat. Menipu matahari, bahwa ini sudah pagi. Selamat jalan pagi yang merona. Maafkan aku tak bisa menyambut matahari pagi ini.

Jalinan awan putih dan langit biru tak bisa kujauhi. Aku terpanggil untuk berdiri. Aku punya janji hari ini. Dengan selembar memori di kepala kutulis tentang keinginan untuk merayakan hari bumi. Masih satu bulan lagi untuk mewujudkan eksistensi generasi environmentalist  sebagai kado untuk bumi.

Kudekati anak-anak yang berjalan. Mereka tetap manja, dengan mata yang berbinar dan penuh cahaya impian. Berbulan-bulan aku selalu dihibur dan dikuatkan cahaya mereka. Merekalah salah satu alasan kenapa aku tetap memilih di bumi keraton mataram ini.

Tiba saatnya aku bercakap dengan ibu-ibu. Ada luapan semangat dari mata-mata yang kutatap. Mereka bisa. Aku yakin bisa. Beberapa program akan dirancang ke depan. Dan merekalah calon-calon pejuang yang meneruskan bahasa-bahasa ibu pertiwi.

Senyum, keringat, dan limpahan semangat akhirnya kurasakan untuk melengkapi senja ini. Di antara rumah-rumah bambu. Di antara geliat temaram ufuk barat.

Anak-anak kembali mengisi keriuhan malam. Menjumlahkan canda, mengurangi kegelisahan, membagi kegembiraan, mengalikan mimpi-mimpi dan kekuatan untukku agar bertahan di ranah ini.

Ramah. Aku juga suka sisi baik ini. Terasa hangat berada di antara sapaan-sapaan. Terasa nyaman di sisi jauh hedonisme bumi ini.

Malam yang pekat dengan angin berseri menuju timur. Kututup dengan cahaya api semangat untuk meneruskan asa, segenap impian, dan sebesit kalimat “Inilah hari yang sempurna, bukan karena aku punya segalanya, tetapi karena di sinilah aku menemukan arti hidup sebenarnya dari Yang Maha Sempurna”.

_______________________________

*) Merasa ingin curhat setelah dalam satu hari menyelesaikan draft konsep event  perayaan hari bumi, musyawarah dengan ibu-ibu membahas program untuk PAUD, menikmati senja, mengajar matematika kelas 5 SD, dan membuat api unggun di shelter merapi Gondang I, Wukirsari, Sleman.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment