Erni

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Awalnya saya pikir proses belajar sehari yang lalu telah berakhir ketika saya pulang dari halaman UGM. Sambil ngangkring di pinggir jalan depan kampus tersebut saya belajar banyak dari sahabat-sahabat yang penuh energi melontarkan pikiran-pikirannya.

Ternyata saat saya memarkir kendaraan di sebuah toko modern, dua bocah kecil berlari di sebelah saya. Keduanya dengan muka kumal dan rambut acak-acakan menuju tong sampah. Disusul ibunya yang menggendong bayi mungil berjalan di belakangnya.

Erni nama sang ibu. Perempuan yang lahir 35 tahun silam ini merespon positif saat saya ajak ngobrol.

Hidup telah menempanya dengan berbagai peristiwa. Sebelum menjadi pengumpul sampah, dia pernah ikut orang untuk bekerja. Namun malang, dia malah dibuang di jalan. Erni juga pernah ikut pelatihan di sebuah panti sosial. Ternyata dia ditipu saat produk-produk kerajinannya tidak dibeli seperti yang dijanjikan.

Erni memilih mengumpulkan sampah-sampah yang masih bisa dijual sebagai sumber pendapatannya. Bersama 5 anaknya, tiap hari dia menjelajah pinggiran kota. Anak pertamanya yang kini berusia 14 tahun menjadi nahkoda gerobak, sementara 3 anak lainnya lincah memilih sampah yang ditemukan di sisi-sisi jalan. Kemudian Erni yang menggendong bayi berusia 2 bulan memberi komando.

Menjelang dini hari kemarin, dia dan 5 anaknya sedang menuju kontrakannya setelah menyisir jalan sejak matahari terbit.

“Bapaknya anak-anak ke mana Bu?”, tanya saya penasaran.

Sejenak dia menundukan kepala, lalu menjawab lirih bahwa suaminya telah meninggalkannya sejak anak kelimanya masih dalam kandungan.

“Ya saya akhirnya mantap memilih seperti ini daripada meminta-minta, Mas. Saya juga meyakinkan diri, bahwa tanpa suami saya juga bisa menghidupi anak-anak”, terang Erni.

Sampah yang mereka kumpulkan ini dipilah di sebuah ruang kontrakan. Lalu sebulan sekali sampah-sampah itu dijual ke pengepul senilai Rp 300.000,00 – Rp 500.000,00.

“Dalam sebulan cukup Bu untuk memenuhi kebutuhan hidup Ibu dan anak-anak?”

“Ya cukup ndak cukup, harus cukup, Mas. Rejeki sudah diatur Gusti Allah to Mas, yang penting kita mau berusaha saja.”

Perempuan yang terlahir di Pasuruan dan sudah 16 tahun tinggal di Jogja ini mengaku sering mengaji. Bahkan dia selalu membawa mukena di gerobaknya.

“Kalau ada biaya, saya pengin menyekolahkan anak saya semampunya, Mas. Tapi saya ndak mau maksa. Kalau anak saya ndak mau ya sudah. Yang penting anak-anak saya ini bergaul di lingkungan yang baik. Jadi besok kalau sudah gede bener-bener dapat rejeki dari cara yang baik.”, seru Erni sambil meninabobokan anak bungsunya di gendongan.

Terima kasih ilmunya Bu Erni. Terima kasih atas obrolan hangat menjelang hujan dini hari. Terima kasih telah melayani permintaan untuk selfie.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

You may also like

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Tour De Bintan 2018

Leave a comment